Hampa
Dalam kerumitan sebuah hubungan, kadang-kadang aku merasa seperti berjalan di atas tali yang rentan putus, dengan harapan dan keputusasaan sebagai penyeimbang. Lelah mulai menggerogoti hati, sementara kebingungan terus merasuk, seolah-olah tidak ada jalan yang benar untuk ditempuh. Di setiap percakapan yang hampa, kesedihan mengendap, meninggalkan ruang kosong yang tak terisi oleh kehangatan. Ketika perhatian yang dulu hangat kini mendingin, aku hanya bisa bertanya-tanya apakah semua ini masih berarti. Rasanya diabaikan—seperti suara dalam keramaian yang tak didengar—dan aku mulai meragukan apakah ada yang benar-benar peduli. Hubungan ini kini bagai bayang-bayang, hadir tapi tidak terasa nyata, membuatku bertanya-tanya: apakah ini akhir, atau hanya kerikil di jalan panjang yang harus kulalui sendirian?